SIAPAKAH SYIAH?

TSAQOFAH ISLAMIYAH

Pemateri : Wido Supraha

📋 SIAPAKAH SYIAH?

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Syi’ah berarti pendukung, pembela.

Syi’ah Ali adalah Pendukung Ali r.a., Syi’ah Mu’awiyah adalah pendukung Mu’awiyah r.a.

Namun baik Syi’ah Ali maupun Syi’ah Muawiyah di masa itu keduanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena aqidah dan fahamnya sama, Al-Qur’an dan As-Sunnah.[1]

Namun setelahnya Syi’ah kemudian berkembang dari aliran politik menjadi aliran aqidan dan fiqh baru.

Sumber rujukan Syi’ah yg utama dan induk ada 4 Kitab (Al-Kutub al-Arba’ah):

  1. Al-Kaafi (16.199 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’kub bin Ishak al-Kulaini (wafat 329H)
  2. Man La Yadhurruh al-Faqih (6.593 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Ash-Shaduq Muhammad bin Ali Babawaih (wafat 381H)
  3. At-Tahdzib (13.590 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan Ali ath-Thusi (wafat 460H)
  4. Al-Istibshar (6.531 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Ath-Thusi (Syaikhut Thaifah).

Keempat kitab ini terus diproduksi hingga hari ini, sehingga salah satu kitab Syi’ah berjudul Al-Muraja’at ditulis oleh Abd Husein Syarafuddin al-Musawi, diterjemahkan oleh MIZAN dengan judul “Dialog Sunnah Syi’ah” menegaskan bahwa keempat kitab tersebut telah sampai kepada kita dengan mutawatir, isinya shahih tanpa keraguan.[2]

Syi’ah kemudian berpecah menjadi banyak firqah:

Syi’ah 7, Syi’ah 12, Syi’ah 12 Ja’far, Hasyimiyah, Hamziyah, Manshuriyah, Mughiriyah, Harbiyah, Khatthabiyah, Ma’mariyah, Bazighiyah, Sa’idiyah, Basyiriyah, ‘Albaiyah, Hisyamiyah, Ruzamiyah, Nu’maniyah, Musailamiyah, Isma’iliyah, Waqifiyah, Mufawwidhah, Ghurabiyah, Kamiliyah, Nushairiyah, Ishaqiyah.[3]

Perbedaan yang banyak ini dijelaskan oleh Fakhruddin ar-Razi dalam Al-Muhashshal,

“Ketahuilah bahwa adanya perbedaan yang sangat besar seperti tersebut di atas, adalah merupakan satu bukti konkret tentang tidak adanya wasiat teks penunjukan yang jelas dan berjumlah banyak tentang Imam yang Duabelas seperti yang mereka klaim itu.”[4]

Inti ajaran Syi’ah terlihat hanya terpusat pada masalah Imam saja, dan tidak boleh diluar dari nama-nama yang mereka yakini [5]

Syi’ah yang berkembang pesat hari ini adalah Syi’ah Imamiyah Dua Belas, karena telah menjadi mayoritas di Iran, Irak, Suriah, Libanon, dan negara lainnya.[6] Meyakini bahwa kepemimpinan ada pada 12 Imam:

  1. ‘Ali bin Abi Thalib
  2. Hasan bin ‘Ali
  3. Husein bin ‘Ali
  4. Ali Zain al-Albidin
  5. Muhammad al-Baqir
  6. Jafar al-Shadiq
  7. Musa al-Kazhim
  8. Ali al-Ridha
  9. Muhammad al-Jawwad
  10. Ali al-hadi
  11. Al-Hasan al-Askari
  12. Muhammad al-Muntazhar

Muhammad al-Muntazhar dikisahkan ketika masih kecil hilang dalam gua yang terletak di Masjid Samarra, Iraq.

Mereka meyakini akan hilangnya untuk sementara dan akan kembali sebagai al-Mahdi untuk langsung memimpin umat.

Nama lainnya Imam Tersembunyi (Al-Imam al-Mustatir) atau Imam yang dinanti (Al-Imam al-Muntazhar).

Periode menanti kehadirannya disebut Al-Ghaibah al-Kubra, diisi oleh kepemimpinan raja, imam dan ulama mujtahid Syi’ah.[7]

Syi’ah Imamiyah mengklaim bahwa Al-Qur’an saja TIDAK CUKUP untuk menerangkan agama, perlu adanya seorang imam.

Kebanyakan ulama mereka terdahulu mengklaim bahwa Al-Qur’an itu kurang karena pengurangan, sehingga tentu ada kemungkinan penambahan.

Mereka juga mengklaim dari sekitar 10.000 sahabat Nabi Saw hanya 4 orang saja yang tidak mengkhianati Rasulullah Saw.

Maka mereka telah meyakini bahwa Islam telah gagal sejak kali pertama, juga kegagalan Rasulullah Saw dalam mendidik! [8]

Maka tidak heran kalau mereka memiliki banyak teori baru dalam akidah seperti Kemakshuman para Imam, Bada’ (Mengetahui hal yang Ghaib), Raj’ah (Reinkarnasi), dan Taqiyah (Kepura-puraan) [9]

💡🔑 Sebuah keyakinan jika tidak dibangun di atas wahyu maka yang terjadilah adalah kerusakan metodologi dan pondasi berfikir.💡

🔹🔹

Maraji’

1] Drs. KH. Moh. Dawam Anwar, Katib Aam PBNU 1994-1998, dalam makalahnya berjudul “Inilah Haqiqat Syi’ah”.

2] KH. Thohir Abdullah al-Kaff, Mantan Ketua Yayasan Al-Bayyinat Bidang Dakwah, dalam makalahnya berjudul “Perkembangan Syi’ah di Indonesia”.

3] KH. Drs. M. Nabhan Husein, Mantan Ketua DDII Jakarta, dalam makalahnya berjudul “Tinjauan Ahlus Sunnah terhadap Faham Syi’ah tentang Al-Qur’an dan Hadits”.

4] DR. M. Hidayat Nur Wahid, Mantan Ketua Yayasan Haramain, dalam makalahnya berjudul “Syi’ah dalam Lintasan Sejarah”.

5] Farid Ahmad Okbah, Ahlussunnah wal Jamaah dan Dilema Syi’ah di Indonesia, hlm. 25.

6] Abdurrahman bin Sa’ad bin Ali asy-Syatsri, Pengajar Tetap Masjid Quba, Aqaid asy-Syi’ah al-Itsna Asy’ariyyah

7] KH. Abdul Latief Muchtar, MA., Mantan

Jawaban pertanyaan2 :

Pengobatan terhadap virus Syiah tidak bisa dilakukan sebelum kita mengetahui sumber persoalannya, dan sumber persoalan itu ada pada metodologi dan struktur keilmuan syi’ah. Jangankan syi’ah, aliran sesat seperti ‘lia eden’, yang dipimpin oleh seorang wanita yang kurang waras pun diikuti oleh bukan sembarang orang, minimal diketahui diikuti juga oleh sekaliber profesor. Maka bagaimana metodologi umat Islam dalam menuntut ilmu adalah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting, karena persoalan kehidupan tidak hanya satu, sementara metodologi yang benar akan memudahkannya untuk melakukan filterisasi terhadap seluruh arus informasi sebelum menjadikannya ilmu dan membentuk struktur berpikir di dalam jiwanya. Mengobati dengan mengetahui persoalan utamanya akan jauh lebih efektif, terlebih ketika cara kita dalam mengobati sesuatu terus menerus saling disempurnakan dalam kebersamaan kita, diperkaya dengan pengalaman dari seluruh sahabat-sahabat yang akan meningkatkan kualitas kebersamaan kita dalam mempertahankan kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka tulisan terkait Syi’ah memang tidak akan cukup dengan satu tulisan pembuka tersebut dan hal yang lebih penting berikutnya adalah bagaimana kita pun dapat menjawab syubhat-syubhat yang dipropagandakan syi’ah secara ilmiah. Insya Allah, tulisan berikutnya dengan tema yang lebih mendalam akan dituliskan.

Referensi dalam tulisan tersebut seluruhnya diambil dari para pembela ahlus sunnah yang telah mengkaji perbandingan antara Sunni – syi’ah dalam waktu yang lama. Nama-nama yang dikutip dikenal sebagai ulama yang juga terlibat dan berkontribusi aktif membela Aqidah Ahlus Sunnah dari ragam penyimpangan manusia. Sebagai contoh Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad al-Ghamidi. Buku yang ditulisnya betul-betul merupakan hasil diskusi dan surat-menyurat dengan seorang yang juga Guru Besar dari negeri syi’ah iran, bahkan mengajar di 8 universitas di negeri tersebut, Prof. Dr. Muhammad al-Qazwini. Dengan semangat taqiyah-nya, al-Qazwini mengunjungi Syaikh al-Ghamidi pada bulan Ramadhan 1423H untuk tujuan awal dialog dan taqrib antara Sunni dan syi’ah. Ketika Syaikh al-Ghamidi menyetujuinya, sejak saat itulah hingga dua tahun kemudian, surat-menyurat di antara mereka terus berlangsung secara intens, dan syaikh al-Ghamidi berhasil mempertahankan pendapatnya secara ilmiah dan penuh hikmah terhadap seluruh hujjah yang disampaikan oleh orang syi’ah tersebut. Berikutnya Syaikh asy-Syatsri, beliau sebagai pengajar tetap di Masjid Quba, Saudi Arabia, telah melahirkan karya untuk menjawab seluruh syubhat yang dipropagandakan syi’ah, tidak dengan dalil-dalil Ahlus Sunnah, namun seluruhnya menggunakan referensi kitab-kitab mu’tabar syi’ah, sehingga umat mengetahui begitu rapuhnya struktur ilmu mereka, bahkan pertentangan demi pertentangan hadir dalam sejarah mereka, sehingga tidak mengherankan jika syi’ah terpecah dalam kelompok-kelompok sekte dalam jumlah yang cukup banyak. Imam Syahrastani dalam kitabnya yang membahas aliran-aliran dalam Islam, bahkan membagi syi’ah kepada lebih dari 30 golongan[1]. Perbedaan yang membesar berawal dari ketidaksepakatan akan siapa yang tepat sebagai pengganti Husain.[2] Aqidah syi’ah yang mengagungkan taqiyah akan membuat sulit bagi mereka yang berkeinginan ‘tabayun’, karena bagi umat Islam yang awam, dan tidak memiliki pondasi aqidah dan bahasa yang kuat, dikhawatirkan akan dengan mudah jatuh ke dalam pelukan syi’ah, sementara para ulama otoritatif pun telah pernah mencoba model pendekatan seperti ini dengan seluruh kapasitas yang mereka miliki, dan kemudian berakhir dengan kekecewaan demi kekecewaan.

Definisi syi’ah dalam masa awal generasi sahabat adalah definisi dalam hal bahasa, sementara syi’ah dalam definisi kekinian dan yang menjadi materi tulisan ini adalah definisi dalam hal teologi baru/bid’ah. Ali r.a. dan Mu’awiyah r.a. adalah termasuk di antara dua sahabat terbaik Rasulullah Saw., dan termasuk dua sahabat yang dipastikan masuk ke Surga-Nya Allah Swt. Terpecahnya ijtihad di antara mereka adalah realitas kehidupan dimana masing-masing memiliki cara pandang tersendiri terhadap apa yang seharusnya menjadi prioritas dalam kepemimpinan, dan ini tidak masuk dalam bab Aqidah yang Lurus. Pembahasan akan perselisihan di antara keduanya, termasuk perselisihan di antara Ali r.a. dan Aisyah r.a. dapat dibahas dalam tema Sirah, agar tidak tercampur fokus kita pada pembahasan syi’ah dalam terminologi teologi baru. Awal ‘terbitnya’ teologi syi’ah adalah sejak mulai aktifnya Abdullah ibn Saba’. (Lihat penjelasan tentang sosok ini pada paragraf terakhir tulisan ini).

Seorang muslim sudah seharusnya berkonsentrasi memperkuat struktur keilmuan yang ada pada dirinya, membangunnya dengan metodologi studi yang benar dan terbukti telah melahirkan para sarjana Islam yang menghadirkan kegemilangan peradaban dan warisan yang teramat kaya. Dengan cara inilah, ia akan terhindar dari ketertarikan menganut syi’ah, dan aliran sesat lainnya seperti lemkari, ahmadiyah, ingkarus sunnah, liberalisme, pluralisme, sekularisme, komunisme, dan lainnya. Dari banyak kasus yang didapati, mereka yang tertarik masuk ke dalam aliran-alirat sesat sempalan adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang pondasi agama yang kokoh, sehingga ada banyak cara untuk menarik orang-orang seperti ini seperti melalui ‘pembangkitan emosi jiwa’, tawaran kenikmatan dunia, dan hal-hal lainnya. Adapun ciri-ciri kesesatan syiah itu sendiri akan dibahas dalam tulisan-tulisan berikutnya tentang tema ini, termasuk hal-hal detail seperti tabel perbandingan Sunni-syiah.

Ketika kita mentadabburi Al-Qur’an, akan kita dapatkan bahwa ketika menggunakan terma kebenaran (al-haqq), Allah Swt menggunakan terminologi ‘tunggal’, namun ketika menggunakan terma kesesatan (adh-dhalal), Allah Swt menggunakan terminologi ‘plural’.

Famadza ba’da al-haqqi illa adh-dhalaali. Hal ini untuk menggambarkan bahwa realitas kebenaran hanya satu, sementara jalan-jalan yang dapat menarik manusia ke jalan kesesatan sangatlah banyak, maka Rasulullah Saw. telah mengingatkan kita untuk tetap fokus kepada ‘shirathal mustaqim’, bahkan memvisualisasikannya di atas pasir kepada para sahabat, untuk menegaskan hal tersebut.

Kesesatan adalah terminologi bagi jalan yang tidak berada dalam shirathal mustaqim, dan jalan kebenaran itu hanya dapat diperoleh ketika para penuntut ilmu taat kepada perintah Nabi-nya untuk berpandukan hanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan keduanya telah diakui oleh para sarjana baik di Timur maupun di Barat tentang bagaimana keduanya telah terjaga hingga hari ini dengan metodologi ilmiah yang dapat diterima oleh semua pihak. Sementara syi’ah memiliki persoalan besar dalam hal ini, sehingga wajar ajaran agama terkesan berubah-ubah. Sebagai contoh utama, syi’ah meyakini bahwa sumber keilmuan mereka tersimpan di sisi para imam mereka, dan para imam mewarisi kitab-kitab dan ilmu yang tidak diwarisi oleh selain mereka, seperti Kitab: Shahifah al-Jami’ah, Ali, al-‘Abithath, Diwan asy-Syi’ah, dan al-Jafr. Seluruh kitab tersebut diklaim berisi segala yang diperlukan manusia di dunia.[3]

Sejarah pun mencatat bahwa gerakan pemalsuan hadits dengan motif kultus para tokoh telah terjadi di Kufah, Irak, saat negeri itu menjadi basis Syi’ah. Pemalsuan besar-besaran yang terjadi saat itu telah merusak reputasi negeri Irak, hingga Irak menjadi populer disebut dengan Dar adh-Darb (Negeri Pencetakan Hadits) [4], sebuah istilah bermakna negatif. Namun begitu, tingkat kesesatan atas sesuatu sudah pasti berbeda-beda dalam derajatnya, mulai dari yang lebih dekat kepada Sunni, hingga yang paling jauh kesesatannya sehingga terjatuh ke dalam kekufuran. Hal yang membedakannya ada pada sejauh mana penyimpangannya dari jalan kebenaran yang telah diwariskan oleh Nabi kita yang mulia, Saw. Lebih detail akan penyimpangan syiah dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya, karena sedemikian tingginya gunung kesesatan mereka yang tidak mungkin dapat ditulis dalam satu dua bait kalimat. Menuntut ilmu memang bertujuan untuk memiliki kemampuan mengidentifikasi, bukan taklid.

Banyak negara di luar sana telah jauh-jauh hari memiliki peraturan untuk membentengi aqidah rakyat negerinya. KH. Hasan Basri, Ketua MUI Pusat di tahun 1997 menyebutkan bahwa pada bulan April 1993 Ulama Indonesia, Malaysia, dan Singapura telah diundang oleh Brunai dalam satu Seminar Aqidah. Hadir pada saat itu Rais Aam NU, KH. Ilyas Ruhiat, dan Ketua Umum Muhammadiyah dari Yogya, KH. Azhar Basyir. Seminar itu melahirkan deklarasi bersama, bahwa keempat negara dimaksud adalah Negeri Sunni bukan syi’i. Bahkan Brunei Darussalam disebutkan sebagai negara kecil yang bahkan memfilter syi’ah sejak dari urusan keimigrasiannya, karena syi’ah lebih berbahaya dari sekedar ekstasi dan narkotika, karena meracuni Aqidah, sementara ekstasi dan narkotika hanya meracuni fisik. MUI telah jauh-jauh hari memutuskan kesesatan aqidah syi’ah, bahkan KH. Hasan Basri mengatakan kepada para duta-duta besar yang mendatanginya untuk bertanya mengapa MUI tidak menyetujui syi’ah, “Kami menyelamatkan aqidah kami, menyelamatkan ummat kami.”[5]

Ketua Lajnah Falakiah PBNU, KH. Irfan Zidny, MA., menegaskan bahwa meskipun ia pernah tinggal 18 tahun di negeri-negeri yang mayoritasnya penganut syi’ah, berinteraksi dengan para ulama syi’ah, namun beliau tidak pernah tertarik menjadi penganut syi’ah. Maka menguatkan pemahaman kita akan hakikat Sunni akan menjaga kita dari penyimpangan. KH. Irfan Zidny mengutip Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (450-505 H),

“Untuk mengetahui kesesatan suatu aliran, sebelum lebih dahulu mengetahui tentang hakikat aliran tersebut, maka hal tersebut adalah tidak mungkin (muhal), bahkan hal yang demikian itu termasuk sikap yang ngawur dan sesat.”[6]

Jika kaum muslimin telah mengetahui hakikat dan jati diri syi’ah, maka tentunya diharapkan sekali agar seluruh penuntut ilmu bahu-membahu bersama-sama melakukan gerakan ‘pengobatan nasional’, penyadaran kepada mereka yang telah terjangkiti virus ini, dengan penuh hikmah, pelajaran yang baik, dan perdebatan yang juga lebih baik. Di satu sisi, kaum muslimin juga diharapkan untuk terus mendorong para pemangku kebijakan strategis untuk terus mempersempit ruang gerak syi’ah di Indonesia, negeri tercinta. Potensi kerusakan yang akan dihasilkan ajaran syi’ah telah terbukti di beberapa negara arab dan afrika, hal ini tidak terlepas dari dogma yang mereka yakini bahwa siapapun yang tidak berkiblat kepada syi’ah imam dua belas, maka dia kafir, di dunia dan akhirat. Syi’ah sangat bermudah-mudah dalam melakukan pengkarifan, karena memang Syi’ah adalah gerakan takfiri.[7] Maka itulah posisi Ahlus Sunnah di dalam jiwa mereka, sehingga tidak mengherankan jika mereka tidak memiliki belas kasih sama sekali dalam seluruh pertarungannya terhadap Ahlus Sunnah.[8] Ahlus Sunnah bukanlah Islam menurut Khomeini, dan dilarang menikahi wanita-wanita Ahlus Sunnah, dalam risalahnya At-Ta’adul wa at-Tarjih, hlm. 82.[9]

Bagi kaum muslimin yang pernah berhaji dan menemukan penganut syiah di sana, maka ketahuilah bahwa tidak semudah itu melarang syi’ah masuk ke Haramain (dua kota suci). Hal ini karena tidak semua warga Iran sebenarnya mengerti tentang ajaran syi’ah kecuali hanya warisan budaya turun temurun. Cara-cara yang digunakan pemerintah Saudi termasuk cara-cara yang bisa disebut lebih toleran, di antaranya berdalil kepada sikap Nabi Saw yang juga tidak pernah mengusir kaum munafik dari Haramain, padahal Nabi Saw tahu persis siapa-siapa yang munafik dari kalangan umatnya. Pemahaman bahwa sekte syi’ah bukanlah sekte seumur jagung, perlu mendapatkan penanganan yang teramat khusus, terlebih ketika perpecahan di tubuh mereka sangat banyak, bahkan ada yang dianggap lebih dekat kepada Ahlus Sunnah, seperti sekte Zaidiyah. Rakyat Iran misalkan, tidak semuanya menganut syi’ah, di KTP mereka tertulis Islam, bukan syi’ah, dan revolusi mereka juga disebut revolusi islam, bukan revolusi syi’ah, maka tentu membutuhkan keahlian khusus untuk dapat memastikan bahwa betul-betul seseorang itu bukan sedang bertaqiyyah.

Menjadi lebih rumit jika yang masuk adalah dari negeri selain Iran. Mudah-mudahan dengan masuknya orang-orang bodoh dari penganut syi’ah yang tidak mengetahui persis ajaran syi’ah, dapat mengambil hikmah dan faidah yang banyak dari Ahlus Sunnah dalam seluruh aspek Islam yang dihidupkannya, mulai dari aqidah, ibadah dan tentunya akhlak, dan tersadarkannya mereka dari ragam bentuk ibadah yang bersifat berlebih-lebihan (ghuluw). Adapun bagi mereka yang sangat kuat pondasi kesyiahannya, mungkin dapat diingatkan untuk tidak perlu datang ke Haramain, karena mereka tentu memiliki kota suci tersendiri. Da’wah adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan hari ini, dikarenakan Sunni dan syi’ah adalah dua teologi yang berbeda ‘meja’, dan memiliki perbedaan prinsipil yang mustahil disatukan.[10] Dr. ‘Utsman bin Muhammad al-Khamis sampai menulis 28 renungan kepada para penganut syi’ah, dan menjabarkannya dari hati ke hati, mencoba semaksimal mungkin menggunakan ragam bahasa yang ditujukan untuk penyadaran mereka [11]

Terakhir, Abdullah bin Saba’ — seorang Yahudi yang baru masuk islam di masa kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan,namun tidak mencerminkan kepribadian Islam sama sekali [12] — memang dengan tegas disebutkan dalam banyak kitab syi’ah dan juga kitab Ahlus Sunnah sebagai tokoh utama yang mempopulerkan tentang keimaman Ali r.a., dan pelopor dalam pencacian terhadap mertua dan menantu Rasulullah Saw.: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman r.a., bahkan yang pertama memunculkan pendapat tentang reinkarnasi, menuhankan Ali, dan kesesatan lainnya. Maka semenjak itulah kesesatan mulai ditaburkan, dan mereka yang terjerembab ke dalam keyakinan ini telah jatuh ke dalam kesesatan yang nyata. Saya teringat kepada Sayyid Husain al-Musawi (sebagaimana kesaksian seorang pakar aliran syi’ah, Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi), seorang ulama besar syi’ah di Najaf, kawasan syi’ah terbesar di dunia, yang akhirnya bertaubat dan kembali kepada Ahlus Sunnah, beliau menjelaskan bahwa ajaran di internal mereka menyatakan bahwa sosok Abdullah bin Saba’ adalah rekayasa Ahlus Sunnah untuk menyerang syi’ah dan keyakinannya. Namun faktanya, ternyata informasi itu sangat banyak ditemukan di dalam kitab-kitab induk mereka. Inilah salah satu alasan al-Musawi kemudian bertemu dengan cahaya kebenaran Ahlus Sunnah sebelum kemudian beliau terbunuh.[13]

Wallaahul musta’an,

Maraji’

====

  1. Muhammad ibn ‘Abd al-Karim Ahmad al-Syahrastani, Al Milal wa al-Nihal.
  2. Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI Pondok Pesantren Sidogiri, Mungkinkah Sunni-syi’ah dalam Ukhuwah?, Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab, Sidogiri: Pustaka Sidogiri, 2008, Cetakan II, hlm. 53.
  3. Sulaiman bin Shalih al-Kharasyi, As’ilah qadat syabab asy-syi’ah ila al-Haq
  4. Amin Muchtar, Hitam di Balik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syi’ah, Depok: Al-Qalam, 2014, hlm. 80.
  5. Sambutan Ketua MUI Pusat dalam Seminar Nasional Sehari tentang Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal Jakarta, 21 September 1997
  6. Ketua Lajnah Falakiah PBNU, KH. Irfan Zidny, MA., dalam makalahnya berjudul ‘Bunga Rampai Ajaran Syi’ah’
  7. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Henri Shalahuddin, Teologi dan Ajaran shi’ah Menurut Referensi Induknya, Jakarta: GIP, 2014, hlm. 270.
  8. Imad Ali Abdussami, Khiyanat asy-syi’ah wa Atsaruha fi hazaim al-Ummah al-Islamiyyah, Iskandariyah: Dar al-Iman, Tanpa Tahun.
  9. Muhammad Malullah, Mauqif al-Khumaini min Ahlis Sunnah
  10. Prof. Dr. Mohammad Baharun, Guru Besar Sosiologi Agama, Epistemologi Antagonisme Syi’ah dari Imamah sampai Mut’ah, Malang: Pustaka Bayan, 2008, hlm. 6.
  11. ‘Utsman bin Muhammad al-Khumais, Minal Qalbi ila al-Qalbi, al-Minhaj, 2009
  12. Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Juz 2, hlm. 139-161.
  13. Sayyid Hussain al-Musawi, Tsalatsatun Rukhshah Syar’iyyah li an-Nisa, Dar ZHil asy-Syarif, Tanpa Tahun.

Tentang Syiah yg mendekati Ahlu sunnah dlm pertanyaan Ita ulama menyakini bahwa aliran Syiah Zaidiyah lah yg paling mendekati ahlu sunnah. Mereka tdk mengkafirkan sahabat2 namun lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib. Imam Asy syaukani penulis Fathul qadir adalah salah satu penganut Zaidiyah dan karya2nya diterima bahkan digunakan oleh ahlu sunnah

Syiah yg paling ekstrim adalah Syiah itsna asyariyah/syiah 12 imam

Apa bedanya syiah zaidiyah dengan syiah imamiyyah itsna asyariyah?

  1. Syiah zaidiyah tidak mengkafirkan para sahabat dan istri Nabi sedangkan syiah imamiyyah itsna asyariyyah mengkafirkan mereka semua kecuali beberapa gelintir saja.
  2. Syiah zaidiyah mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan `Umar sepeninggal Nabi صلى الله عليه وسلم sedangkan syiah imamiyyah itsna asyariyyah tidak mengakui keduanya sebagai pemimpin sepeninggal nabi.
  3. Syiah zaidiyah tidak membenarkan mut’ah sedangkan syiah imamiyyah itsna asyariyyah membolehkan nikah mut’ah.

Syiah zaidiyah inilah kelompok syiah yang paling dekat dengan Ahlussunnah. Karena, kedua-duanya sama-sama tidak mengkafirkan para sahabat dan istri nabi. Dan juga sama-sama mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar. Dan juga sama-sama tidak membenarkan mut’ah. Lantas apa perbedaan syiah zaidiyah dengan ahlussunnah? Perbedaannya dalam hal siapa yang didahulukan dalam hal keutamaan, apakah Ali atau Abu Bakar dan Umar? Syiah zaidiyah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lebih afdhal dibandingkan Abu Bakar dan Umar. Sedangkan Ahlussunnah berpendapat bahwa Abu Bakar dan Umar lebih afdhal dibandingkan Ali bin Abi Thalib.

Wallahu A’lam Bishawab


-- Download SIAPAKAH SYIAH? as PDF --